Rabu, 21 Mei 2014





         
           Permainan tradisional merupakan jenis permainan yang mengandung nilai-nilai budaya yang pada                    hakikatnya merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan keberadaannya. Namun seiring dengan            kemajuan zaman, permainan tradisional ini mulai hilang apalagi di daerah-daerah perkotaan dan                      sangat disayangkan banyaknya anak-anak yang sudah tidak mengenal permainan tradisional ini,                    mereka lebih mengenal permainan yang modern seperti playstation, timezone dan game-game                        lainnya.Setiap permainan tradisional menampilkan sisi tersendiri untuk perkembangan kecerdasan                  anak. Hal ini sangat berbeda sekali dengan permainan modern yang berkembang saat ini.










                  Bunggo (Meriam bambu, Permainan Tradisional Gorontalo)

Ada satu permainan khas masyarakat gorontalo saat memasuki ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Permainan yang menjadi tradisi masyarakat gorontalo ini adalah Meriam Bambu atau dalam bahasa daerah gorontalo di sebut Bunggo. Permainan ini memerlukan bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya dilubangi, kecuali ruas paling ujung, dengan diameter ukuran bambunya bermacam macam. Dentuman bunggo dapat kita dengar hanya pada Bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, selebihnya atau di bulan  bulan lain tidak ada. Tak heran jika Anda berada di daerah gorontalo pada saat ramadhan, rasanya seperti berada di medan perang, terdengar dentuman meriam di mana mana. Bunggo merupakan permainan rakyat dan tradisi leluhur yang sudah turun temurun dan sejak berabad  abad tahun yang lalu.
Permainan unik ini dimainkan pada saat saat menjelang waktu santap sahur dan sore hari menjelang berbuka puasa. Kadang siang hari pun akan terdengar dentumannya. Permainan ini dimainkan oleh semua kalangan, baik dari anak  anak, remaja bahkan orang dewasa sekalipun. Mereka berkumpul di tanah lapang atau lahan sawah yang luas untuk menyalakan meriam bambu atau bunggo ini. Bunyi dari bunggo yang cukup nyaring seolah mengajak warga untuk segera makan sebelum waktu imsak tiba. Lokasi arena meriam bambu sengaja dibuat agak jauh dari permukiman agar tidak terlalu mengagetkan orang.
Permainan khas rakyat gorontalo ini, tidak memerlukan biaya banyak untuk membuatnya. Hanya 1 ujung bambu pilihan yang di potong hingga ruas bambu yang diperlukan hanya sekitar 5 atau 6 ruas, panjangnya mencapai 1 hingga 1,5 m. Kemudian setiap ruas bambu tersebut dilubangi hingga keujung bagian depannya. Yang tertutup tinggal ruas bambu bagian belakang yang bertujuan untuk menahan bahan bakarnya. Pada bagian belakang bambu ini di lubangi sebagai tempat menyalakan bunggo. Cara memainkannya seperti meledakkan meriam pada masa perjuangan melawan penjajah Belanda.
Lubang kecil pada bambu diisi dengan minyak tanah, hingga bahan bakar ini menggenang di dalam ruas bambu. Lalu disulut api hingga mengeluarkan bunyi ledakan. Semakin panas bunggo tersebut semakin keras ledakannya. Tradisi membunyikan bunggo pada Bulan Ramadhan hingga kini masih sangat kental di masyarakat gorontalo. Perlu adanya pelestarian dari budaya ini dan menjadikannya aset pariwisata dan seni budaya bangsa indonesia.Akan tetapi, seiring dengan pergantian tahun 2012 ke 2013 Bunggo yang dulunya dikenal sebagai permainan tradisional Gorontalo, kini mengalami reinkarnasi globalisasi. Bunggo yang dulunya menggunakan bahan dasar bambu, kini berganti Pipa Paralon bahkan sebagian menggunakan botol plastik air mineral yang kemudian disambung dengan lakban hingga membentuk layaknya sebuah Bazoka. Yang beda lagi, bunggo yang dulunya berbahan bakar minyak tanah, kini diganti dengan spitus.
Pada perayaan malam tahun baru 2013 di gorontalo, Bunggo medern menjadi salah satu alternatif pengganti petasan yang mewarnai hingar bingar perayaan malam pelepasan tahun 2012.
Dari segi ledakannya mungkin bunggo modern lebih memiliki daya ledak yang lebih besar dibandingkan dengan bunggo tradisonal. Namun dari tinggkat keamanannya saya lebih memilih bunggo tradsional.

Selasa, 13 Mei 2014

PESONA BINDHE BILUHUTA

 

Kota Gorontalo adalah ibu kota Provinsi Gorontalo. Gorontalo memiliki keanekaragaman kuliner yang unik. Bagi anda yang belum tahu, Gorontalo memiliki kuliner yang terbuat dari jagung manis. Mengunjungi Gorontalo jangan lupa mencicipi wisata kuliner ini.
Binthe Biluhuta namanya, merupakan kuliner khas Gorontalo yang sudah ada sejak masa lampau. Kuliner khas Gorontalo ini diwariskan secara turun temurun oleh leluhur di Gorontalo. Pada masyarakat Gorontalo, Binthe Biluhuta atau yang sering dikenal dengan sebutan “milu siram” merupakan makanan yang sangat unik.


Sebenarnya, bicara masakan khas Gorontalo, tidak sebatas pada binthe biluhuta saja, karena banyak kuliner khas Gorontalo, yang perlu dikenal secara meluas. Namun kuliner satu ini yang menjadi kuliner pembicaraan wisatawan yang datang ke Gorontalo.  Asal-usul nama wisata kuliner khas Gorontalo ini adalah binthe yang artinya jagung, biluhuta artinya disiram.
Oleh karena itu kuliner ini berbahan dasar jagung lalu disiram dengan olahan beberapa rempah sebagai penyedap. Kuliner khas Gorontalo ini dapat dengan mudah ditemui saat Anda berada di Gorontalo. Di daerah aslinya, banyak warung makan dan restoran yang menyajikan kuliner khas Gorontalo ini dan menambah kemeriahan wisata kuliner Anda selama berada di Gorontalo.
JANGAN LUPAKAN WISATA KULINER GORONTALO
Potensi Indonesia sebagai tujuan wisata memang sangat besar. Dari obyek wisata alam, budaya, kota dan tentu saja jangan melupakan wisata kulinernya. Benar, wisata kuliner tidak bisa dilupakan begitu saja mengingat tiap daerah di Indonesia mempunyai jenis dan cita rasa makanan yang berbeda-beda.
Bagi para penikmat wisata kuliner, tentu sudah tidak asing dengan makanan khas Sulawesi. Sambal dabu-dabu, Konro bakar dan cakalang fufu adalah sedikit contoh makanan khas Sulawesi yang umumnya kita tahu dari berbagai jenis makanan yang ada. Kali ini, penulis akan membahas beberapa jenis makanan khas yang berasal dari Gorontalo



Binthe Bilihuta
Binthe Biluhuta atau yang biasa disebut milu siram adalah makanan khas Gorontalo yang sudah ada sejak masa lampau. Makanan ini berupa sop yang berisi jagung manis yang sudah dipipil, potongan ikan cakalan, udang kecil, parutan kelapa, kemangi, daun bawang, bawang goreng, cabe merah dan diberi jeruk nipis secukupnya. Melihat bahan dan bumbu yang dipakai, wajar jika sop ini berasa gurih pedas dan menyegarkan.
Makanan ini tidak hanya ada di Gorontalo tapi juga dapat ditemukan di daerah Sulawesi Tengah ( di Luwuk maupun di Palu ). Hal ini mungkin terjadi karena adanya migrasi warga dari Gorontalo atau warga Sulawesi Tengah yang sudah mengetahui cara pembuatan makanan ini.
 Ayam Iloni

Meskipun Gorontalo merupakan daerah penghasil jagung, bukan berarti makanan khasnya akan melulu berbahan dasar jagung. Ayam Iloni adalah salah satu makanan khas tersebut. Dilihat dari bentuknya, Ayam Iloni ini tidak berbeda dengan ayam bakar pada umumnya.
Ayam Iloni dimasak dengan menggunakan racikan bumbu rempah ( bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, kunyit, dan lain lain ) untuk kemudian dimasak menggunakan santan dan dipanggang. Perbedaan cara mengolah dan bumbu yang dipakai itulah yang membedakan ayam Iloni dengan ayam bakar/panggang pada umumnya.
Perbedaan lain? Tentu saja dari rasanya yang gurih dan pedas! Begitu pedasnya, mungkin akan terlihat kita seperti habis olahraga. Terkadang makanan ini disajikan dengan nasi dan sagu, serta semangkuk kecil sup sebagai obat pedasnya. Bagi para pecinta pedas, ayam Iloni wajib untuk dicob.

Sashimi Tuna
Sashimi memang bukan makanan khas dari Gorontalo, karena sashimi adalah makanan khas Jepang. Mengapa penulis memasukkannya sebagai makanan khas Gorontalo? Karena, Gorontalo merupakan salah satu daerah penghasil ikan tuna  di Indonesia. Ikan tuna yang dihasilkan di laut sekitar Gorontalo bisa seberat 50-60 kg per ekornya.
Di beberapa warung seafood dekat pelabuhan Gorontalo sudah menyediakan menu ini. Tapi jangan harapkan kelengkapan makan sashimi seperti kecap shoyu, wasabi atau cabe bubuk seperti yang kita temui di restoran Jepang di Jakarta. Sashimi di Gorontalo disajikan hanya dengan sambal dabu-dabu, sehingga memberikan cita rasa yang berbeda. Para penikmat sashimi wajib mencoba sashimi tuna campur dengan sambal dabu-dabu ini.
Selain makanan, ada juga minuman khas Gorontalo seperti Es Brenibon, yaitu es kacang merah yang diberi serutan es batu dan susu manis. Atau juga Saraba, minuman seperti STMJ penghangat badan yang merupakan minuman khas yang mudah sekali kita temukan di Sulawesi.
KENALI DAERAHKU
Lagu daerah Gorontalo
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat. Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga. Sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko, Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
      Pakaian adat
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau
 Biliu
*      Alat musik Daerah Gorontalo
Gorontalo merupakan salah satu propinsi baru memisahkan diri dari propinsi Sulawesi Utara pada tahun 2001, memiliki jenis kebudayan dan adat istiadat yang beraneka ragam. Salah satu kesenian sebagai bagian dari kebudayaan daerah Gorontalo yang cukup terkenal yaitu musik tradisional Polopalo. Menurut masyarakat Gorontalo, musik tradisional Polopalo merupakan musik asli rakyat Gorontalo, namun pada perkembangannya, ternyata ditemui ada alat musik daerah lain yang hampir serupa dengan musik ini yakni alat musik Sasaheng dari Sangihe Talaud dan Bonsing dari Bolaang Mongondow.
Alat musik tradisional Polopalo merupakan alat musik jenis idiofon atau golongan alat musik yang sumber bunyinya diproleh dari badannya sendiri (M. Soeharto 1992 : 54), Dalam artian bahwa ketika Polopalo tersebut di pukul atau sebaliknya memperoleh pukulan, bunyinya akan dihasilkan dari proses bergetarnya seluruh tubuh Polopalo tersebut.

Alat musik Polopalo adalah alat musik yang bahan dasarnya terbuat dari bambu, bentuknya menyerupai garputala raksasa dan teknik memainkannya yakni dengan memukulkan ke bagian anggota tubuh yaitu lutut. Pada perkembangannya, Polopalo mendapatkan penyempurnaan pada beberapa hal, salah satunya adalah kini Polopalo dibuatkan sebuah pemukul dari kayu yang dilapisi karet agar mempermudah dan membantu dalam proses memainkan alat musik Polopalo. Hal ini memberi dampak selain tidak membuat sakit bagian anggota tubuh yang dipukul, juga membuat Polopalo tersebut berbunyi lebih nyaring.
 Pada era tahun 60-an sampai sekitaran tahun 90-an, Polopalo biasanya dimainkan pada waktu – waktu tertentu, yang pada hari tersebut merupakan hari yang spesial menurut masyarakat Gorontalo. Contohnya, pada waktu masyarakat daerah Gorontalo telah selesai melaksanakan panen raya atau pada waktu bulan t’rang (bulan purnama). Tradisi memainkan musik Polopalo dilaksanakan tanpa menunggu perintah atau komando, dalam hal ini masyarakat tergerak dengan sendirinya karena merasa harus bergembira bersama dalam mensyukuri hari yang indah atau hari yang spesial tersebut. Biasanya musik tradisonal Polopalo itu dimainkan kira – kira pukul 22.00 sampai pukul 01.00 waktu setempat.
Musik Polopalo saat ini agaknya kurang diminati masyarakat. Kemungkinan penyebabnya antara lain, alat musik ini hanya dimainkan sendiri dengan variasi nada terbatas. Untuk lebih diminati, kemungkinan pengembangannya pada bentuk komposisi musik, yang diharapkan dapat menggugah generasi muda sebagai penerus kebudayaan, yang sehari-harinya mereka banyak mengkonsumsi berbagai aliran musik baru yang beraneka ragam. Oleh sebab itu pengambangan musik Polopalo diharapkan akan menghasilkan harmonisasi dan improvisasi variatif mengikuti perkembangan musik pada umumnya.
*      Rumah Adat
Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Pomboide dan Dulohupa. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Dulohupa terletak di di Kelurahan Limba U-2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Akan tetapi, rumah adat Dulohupa yang satu ini kini tinggal kenangan karena sudah diratakan dengan tanah. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Rumah Adat Dulohupa di Limba U-2,
Kota Selatan, Gorontalo
(tinggal kenangan)
 Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.
Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Kemudian dia menikah dengan salah seorang perempuan pendatang yang bernama Tilopudelo yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Perahu tersebut berpenumpang delapan orang. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo, tepatnya yang menjadi cikal bakal masyarakat keturunan Gorontalo saat ini. Sejarawan Gorontalo pun cenderung sepakat tentang pendapat ini karena hingga saat ini ada kata bahasa Gorontalo, yakni 'Hulondalo' yang bermakna 'masyarakat, bahasa, atau wilayah Gorontalo'. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo


Semua Tentang Gorontalo 

Sejarah Berdirinya Provinsi Gorontalo

Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo
* Pohala'a Limboto
* Pohala'a Suwawa
* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.

Rabu, 30 April 2014



Sejarah Seputar Hulondalo Lipu'u (Pilotutuwa Ola'u)


Sejarah Gorontalo



Sejarah Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain KotaMakassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara). Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.


Islamnnya Kerajaan Gorontalo




Menyebut Hulondalo, berarti sama artinya dengan Gorontalo.Hulondaloberasal dari kata Hulonthalangi dari istilah Huta Langi-langi, yang dalam bahasa setempat artinya genangan air.Orang belanda menyebutnya dengan Holontalo, yang apabila ditulis dalam abjad latin menjadi Gorontalo.
Nilai budaya yang dianut adalah yang berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukkan oleh alam. Ini berarti penduduknya menganut kepercayaan animisme. Kemudian, Islam 
mulai masuk ke Gorontalo



Mengenat Adat Istiadat Daerag Gorontalo

Tidak banyak yang tahu bahwa ada provinsi Gorontalo di Indonesia. Provinsi ini adalah provinsi ke-32 sebagai hasil dari pemekaran daerah Sulawesi Selatan. Daerah ini mayoritas dihuni oleh suku Gorontalo. Perkembangan kehidupan masyarakat secara umum juga membawa dampak yang cukup besar dalam masyarakat Gorontalo. Ada beberapa kebiasaan dan gaya hidup yang berubah ke arah lebih modern. Kemajuan jaman ternyata tidak membuat suku Gorontalo melupakan adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur. Banyak masyarakat suku Gorontalo yang masih mempertahankan adat istiadat dan kebudayaan tersebut.

Kesenian Dan kebudayaan Gorontalo

 Gorontalo memiliki berbagai macam kesenian dan kebudayaan, dan berikut beberapa kesenian dan kebudayaan yang berasal dari Gorontalo:
Bahasa
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Namun kali ini yang bisa digunakan yaitu dialek Gorontalo
Pakaian Adat
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.

Gorontalo memiliki 2 bentuk rumah adat yang bernama Bandayo Poboide dan Dulohupa. Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga.



Alat Musik 

Alat Musik asal Gorontalo bernama Polopalo, alat musik ini terbuat dari bambu dan di iket menggunakan tali yang bentuknya menyerupai garputala raksasa. Cara memainkanya yaitu dengan memukulkan Polopala ke lutut dengan irama yang beraturan.


Tari Tradisional 
Gorontalo memiliki beraneka ragam tari tradisional yang berasal dari wilayah tersebut :
Tari Dana-dana
Tari Dana-dana merupakan Tarian pergaulan remaja gorontalo yang berkembang dari masa kemasa, tarian ini melambangkan cinta kasih dan kekeluargaan